Translate

Friday, September 18, 2015

Ulama al-Quran Vs The Killer

kisah ulama dan pembunuhCleric al-Quran Vs The Killer
Koran ingrained in his body. Koran into her jewelry. Activities coupled with the Koran. He was Said bin Jubair Rahimahullah. Best pupil Ibn 'Abbaas anhuma. He was a former slave of Bani Wabilah coming from Kufa. Black, but brilliant white personality. Successors famous cleric, until Imam Ahmad said,
والله لقد قتل سعيد بن جبير, وما أحد على الدنيا من المسلمين, إلا وهو بحاجة إلى علمه
'It has been killed Said bin Jubair. In fact, all the Muslim inhabitants of the earth requires knowledge Said bin Jubair. "(Al-Bidayah wa an-Nihayah, 12/467).
He died were killed by the Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Humans of the sons Thaqlf, who was appointed as governor to lead the region of Mecca, Medina, Taif, and Iraq. He is known to very cruel ruler, killing many scholars and Muslims. It was he who killed Abdullah bin Zubair radi 'anhu, grandson of Abu Bakr as-Siddiq radi' anhu.
Said bin Jubair, was once a fugitive countries together Abdurrahman Ibn Ash'ath. After Ibnul Asy'at captured, Said fled to Asfahan. When the refuge is known, he moved to Mecca. Once known whereabouts, he did not move. "By God, I am ashamed to God, where I had to run and no place to avoid the taqdir God."
Said after troops surrounded his house, they knocked on the door loudly. After Said opened the door, and watched their faces, he said,
حسبنا الله ونعم الوكيل, ماذا تريدون?
"We pasrahkan to God, and He is the best of a dependent. What do you want? "
"Hajjaj want to see you now." They said.
"Wait a minute." Beliaupun bath, wear perfume, hair oil, and put on his winding sheet. Then out of the house praying,
اللهم يا ذا الركن الذي لا يضام, والعزة التي لا ترام, اكفني شره
Ya Allah, the One owner of a shelter that is not invincible. The owner strength, none of whom were able to reach it.
Said encounter Hajjaj in a state of very angry, he delivered greetings,
السلام على من اتبع الهدى
Safety for those who follow the path of guidance.
This is the greeting of Moses to Pharaoh.
"What is your name?" Asked Hajjaj.

“Said bin Jubair.”
“Salah, kamu Syaqy bin Kasir. (orang celaka bin binasa).” Tukas Hajjaj.
“Ibuku paling tahu tentang namaku.”
“Kamu celaka, ibumu celaka.” Kata Hajjaj.
“Masalah ghaib (celaka di akhirat), hanya Allah yang tahu.” Jawab Said.
“Apa pendapatmu tentang Muhammad?” tanya Hajjaj.
“Nabiyul Huda, Imamul Rahmah (Nabi pembawa petunjuk, Pemimpin kasih sayang).”
“Apa pendapatmu tentang Ali?” tanya Hajjaj.
“Beliau telah menuju Allah, imam Huda (pemimpi kebenaran).”
“Lalu apa pendapatmu tentang diri saya?” tanya Hajjaj.
“Orang dzalim, yang akan bertemu Allah dengan menanggung darah kaum muslimin.”
“Bawakan emas dan perak.” Pinta Hajjaj.
Para pasukan datang membawa dua ember emas dan perak dan langsung dituang di depan Said.
“Apa-apaan ini, Hajjaj? Jika kamu hendak sedekahkan barang ini agar bisa menebus hukuman Allah, itu amal soleh bagimu. Jika ini harta yang kamu rampas dari si miskin dengan cara sombong, demi Allah, hari kiamat lebih menakutkan.”
“Bawakan alat musik dan gadis penyanyi.” Pinta Hajjaj.
Alat musik itu dimainkan di gadis sambil bernyanyi. Saidpun menangis hingga membasahi jenggotnya.
“Kamu kenapa? Kamu terenyuh.”
“Tidak. Tapi saya melihat gadis ini dipaksa melakukan sesuatu yang bukan tujuan dia diciptakan.”
“Mengapa kamu tidak ikut tertawa seperti kami?” tanya Hajjaj.
“Karena hati kita berbeda dan tidak sama.”
“Aku akan ganti dinar ini menjadi api yang menyala.” Kata Hajjaj.
“Kalau kamu bisa, kamu tak sembah.” Tukas Said.
“Akan kubunuh kamu, dengan cara yang tidak pernah kulakukan pada orang lain. Silahkan pilih, cara apa yang kamu inginkan?” ancam Hajjaj.
“Sebaliknya, kamu pilih cara apa yang kamu inginkan. Demi Allah, cara apapun yang kau gunakan untuk membunuhku, pasti Allah akan membalasnya dengan cara yang sama pada hari kiamat.” Ancam balik Said.
“Bunuh dia!!” perintah Hajjaj.
Kemudian Said menghadap kiblat sambil membaca firman Allah,
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan tunduk. Dan saya bukan termasuk orang musyrikin.” (QS. Al-An’am: 79).
“Hadapkan dia ke selain arah kiblat.” Peritah Hajjaj.
Said membaca firman Allah,
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
Kemanapun kalian menghadap, di sana ada wajah Allah. (QS. Al-Baqarah: 79).
“Telungkupkan dia ke tanah.” Perintah Hajjaj.
Said tersenyum dan membaca firman Allah,
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
Dari tanah Kami ciptakan kalian, ke tanah Kami kembalikan kalian, dan dari tanah Kami bangkitkan kalian untuk yang kedua kalinya. (QS. Thaha: 55).
“Sembelih dia.” Perintah Hajjaj.
Seketika itu Said berdoa,
اللهم لا تسلط هذا المجرم على أحد بعدي
“Ya Allah, jangan beri kesempatan orang dzalim ini untuk membunuh seorangpun setelah dia membunuhku.”
Beliau meninggal, wafat untuk beristirahat dari kejahatan penguasa dzalim, dan Allah ijabahi doanya.
Setelah kejadian itu, Hajjaj jatuh sakit. Keluar penyakit kulit di sekujur tubuhnya. Dia sakit sebulan penuh, tidak bisa merasakan makanan dan minuman, dan tidak bisa tidur nyenyak.
Setiap kali dia tidur, dia selalu bermimpi berenang di sungai darah. Dia selalu mengatakan, ‘Bagaimana nasibku dengan Said…bagaimana nasibku dengan Said…’ hingga dia mati.
Ibnu Jarir mengatakan, tahun kematian Said dikenal dengan tahun Ulama. Karena pada tahun itu, banyak ulama Madinah yang wafat. Dimulai dari Ali bin Husain Zainul Abidin (cucu Ali bin Abi Thalib), Urwah bin Zubair, Said bin Musayib, Abdurrahman bin Harits, dan Said bin Jubair. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 9/115).
Allahu a’lam.

No comments:

Post a Comment